Mengenal Adu Bagong Tradisi Masyarakat Indonesia

Mengenal Adu Bagong Tradisi Masyarakat Indonesia

Mengenal Adu Bagong Tradisi Masyarakat Indonesia, Mengadu Ketangkasan Anjing Melawan Babi Hutan Yang Di Tonton Oleh Ribuan Warga Sebagai Tradisi Yang Terbilang Unik Berbeda dengan Adu Anjing di Agen Pacuan Anjing Pada Umumnya.

Menurut Wikipedia, Adu Bagong adalah salah satu kegiatan pertandingan yang melibatkan Babi hutan dengan anjing yang telah mengalami latihan sebelumnya. Umumnya, anjing yang mengikuti kegiatan ini adalah anjing ras jenis Pitbull atau ras campuran yang memiliki garis keturunan dengan Pitbull, dengan tujuan bahwa naluri menggigit dan cengkraman gigitannya dapat menyerupai ras aslinya.

Mengenal Adu Bagong Tradisi Masyarakat Indonesia

Sejarah Adu Bagong di Indonesia

Sejarah dimulainya pertandingan adu babi hutan hingga kini masih terdapat kesimpangsiuran, di mana belum dapat dipastikan secara kronologinya. Namun, dilihat dari bahasa Adu bagong sendiri, kata ini diambil dari Bahasa Sunda di mana Adu secara garis besar yakni mempertandingkan atau mempertarungkan, sementara bagong berarti Babi Hutan. Dilihat dari perkembangannya, pertandingan adu babi hutan ini juga sering berlangsung di beberapa wilayah di Jawa Barat, termasuk di antaranya Bandung, Sumedang, dan beberapa daerah di Priangan Timur. Namun, pertandingan adu babi hutan ini juga berlangsung tidak hanya di wilayah Jawa Barat, salah satunya adalah di Bengkulu.

TujuanĀ Adu Bagong di Indonesia

Tujuan umum diadakannya pertandingan adu babi hutan ini salah satunya adalah mengurangi populasi babi hutan yang dianggap meresahkan masyarakat karena keberadaannya merupakan hama petani, bahkan peternak. Keberadaan babi hutan sendiri di wilayah pegunungan masih cukup banyak, meski untuk mendapatkannya secara hidup, diperlukan tenaga dan pengorbanan ekstra. Karena babi hutan dikenal agresif dan dapat melukai manusia jika terancam.

Mekanisme PertandinganĀ Adu Bagong di Indonesia

Adu bagong yang diselenggarakan oleh Agen Adu Bagong Seperti Line Bola, panitia membuat arena berukuran sekitar 15 X 30 m yang terbuat dari anyaman bambu dengan ketinggian mencapai sekitar 5 meteran, di bagian tengahnya terdapat kubangan air ukuran sekitar 4 X 4 meteran untuk berendam babi hutan. Di bagian ujung arena ada sebuah tempat yang dipergunakan menyimpan dan melepas anjing dan babi hutan.

Para penonton dan juri melihat dari bagian atas arena yang disediakan oleh pihak naitia. Cara beradu, babi hutan dilepas ke tengah arena, setelah itu anjingpun dilepas untuk memburu babi hutan tersebut.

Satu anjing diberi waktu sekitar lima menit oleh pihak panitia untuk meburu babi, bila anjing telah berhasil menggigit ataupun sebaliknya tidak bisa mengigit babi, maka anjing segera di tangkap oleh pawangnya, kemudian diganti dengan anjing yang lain. Demikian juga ketika anjing mengalami luka segera diambil oleh pawang anjing yang terus menyaksikan diarena tersebut.

Ketika adu ketangkasan antara anjing dan babi dilakukan, penonton yang berasal dari semua usia dan panitia ramai bersorak memberi semangat terhadap anjing sambil ikut bersuara mengonggong. Tidak nampak ada rasa ngeri, ataupun belas kasihan para penonton terhadap bagong dan anjing yang terus beradu, mereka justru menikmati adu bagong tersebut. Sementara diluar arena ramai oleh pedagang makanan seperti bakso, surabi, siomay, mie ayam dan sejumlah makanan ringan lainnya serta jajanan anak-anak, layaknya sebuah hiburan besar.

Kematian anjing yang disebabkan oleh luka parah akibat gigitan dan serangan babi hutan menjadi salah satu kontroversi dalam berlangsungnya pertandingan babi hutan ini. Meski anjing yang dipertandingkan adalah anjing petarung seperti Pitbull, namun kesalahan dalam strategi menyerang diklaim sebagai salah satu pemicu kematian anjing di mana babi hutan dengan brutal menyerang kembali anjing. Pemilik anjing petarung yang terlalu memaksakan agar anjing dapat mengalahkan babi hutan juga menjadi salah satu sorotan utama penyayang binatang, di mana nafsu dan keinginan pemilik menjadikan anjing berusaha mengalahkan babi hutan meski dalam keadaan terluka parah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*